Masyarakat seringkali tak menyadari keberadaan anggota atau kelompok teroris di sekitar mereka. Sebab teroris membaur dengan masyarakat dan tak jarang penampilannya tak mencurigakan.

Itulah mengapa masyarakat seharusnya tak mencurigai seseorang dari tampilan luarnya seperti bercadar dan berjenggot.

Sangat tidak adil bila masyarakat mewaspadai orang yang berpenampilan demikian sebagai seorang teroris.

Salahsatu mantan napi terorisme, Sofyan Tsauri menuturkan mengenali seorang teroris bukan melalui tampilan luar alias pakaiannya.

Melainkan melalui cara bergaul dan berfikir mereka. Meski tak semua terduga teroris yang ditangkap polisi bersikap tertutup dan mencurigakan.

Adapun ciri-ciri yang disebutkan Sofyan dalam mengenali teroris adalah:

  1. Tertutup dan Tak Mau ke Masjid

Seorang teroris biasanya bersikap tertutup dan anti sosial terhadap sekitarnya. Kendati penampilannya bagaikan seorang Islam yang soleh, ia bakal jarang bergaul dengan sesama muslim.

Seorang teroris biasanya memiliki pemikiran radikal sehingga ia menganggap orang lain salah dan hanya dirinya yang benar. Sehingga dia ogah bergaul dengan mereka.

Mereka bahkan tidak mau shalat berjamaah di masjid.

Mereka tidak mau shalat di masjid dengan alasan imamnya tidak jelas akidahnya, tidak jelas alirannya dan sebagainya.

  1. Pelit Membalas Salam

Kendati berpakaian sesuai syariah Islam, para teroris yang sudah terpapar pemikian radikal akan terlihat berbeda dalam pergaulan.

Sofyan menyebut salahsatunya adalah mereka akan malas menjawab salam bagi orang yang tak dikenalnya atau orang yang tidak disukainya.

Padahal dalam hukum Islam menjawab salam adalah wajib sedangkan mengucap salam adalah sunnah.

  1. Dendam

Berdebat dengan orang yang terserang pemikiran radikal akan menimbulkan perpecahan.

Biasanya orang yang terpapar pemikiran radikal sulit menerima pendapat orang lain. Dan jika dilawan dalam berdebat mereka akan membenci lawan debatnya.

Bahkan mereka akan membenci orang yang berpikiran berbeda dengan mereka.

  1. Lebih Cinta Kematian

Teroris terkenal dengan prinsipnya yang dekat dengan kematian. Menurut Sofyan, kematian bagi mereka hanyalah jalan untuk menuju surga Tuhan sehingga mereka senang berada di dekatnya.

Mereka mencintai kematian itu bagaikan orang lain mencintai kehidupan. Mereka pun mengeksklusifkan diri dengan pemikiran itu dan menganggap orang yang tak sepemikiran hanyalah takut mati. Mereka yang takut mati bukanlah orang yang dekat dengan Tuhan.

  1. Gampang Mengharamkan Sesuatu

Ciri lainnya adalah kelompok radikal mudah membenci sesuatu hingga harus diperangi.

Biasanya mereka menganggap suatu instansi atau pekerjaan menjadi haram dan layak diperangi, kepolisian misalnya.

Perlu diketahui, nama Sofyan Tsauri belakangan ini kerap muncul di media.
Sebagai mantan napi terorisme, ia menceritakan bagaimana dirinya meninggalkan pekerjaannya sebagai polisi dan memilih menjadi teroris sebelum akhirnya ia tobat.

Awal mula dirinya masuk kelompok teroris pada 2009, kata Sofyan, karena terpapar pemikiran taqfir Aman Abdurrahman. Pemikiran taqfir sebenarnya sudah didalami Sofyan sejak 2006.

“Dulu saya memang terpapar pemikiran taqfir yang dibawa Aman Abdurrahman. Pada waktu itu saya begitu menghayati dan saya keluar dari dinas kepolisian pada 2008. Setelah 2006-2007 saya membaca buku Aman dan terjemahannya. Tahun 2009 saya di-PTDH. Ketika saya bergabung dengan jaringan terorisme, saya sudah dipecat,” ucap Sofyan dilansir dari Detik.com.

Ia menceritakan saat itu ia terpapar paham radikal dari Aman Abdurahman yang kini menjadi pemimpin Jamaah Asharut Daulah (JAD).

“Saya bergabung dengan kelompok teroris itu karena keyakinan saya, aqidah saya memang menuntut bahwa saya ingin berjihad membela kaum Muslimin. Tapi saya begabung dengan kelompok-kelompok yang disinyalir mempunyai pemikiran taqfir. Pemahaman yang mudah mengkafirkan. Bahkan FPI, Hamaz, kaum Muslimin, kelompok-kelompok jihad yang tidak setuju kepada mereka, dikafirkan. Ini jauh sebelum adanya ISIS. Pemahaman taqfir itu sudah ada,” papar dia.

“Saya tertangkap 2010 di Narogong,” imbuh dia.

Sofyan menuturkan dirinya lalu menjalani proses hukum lantaran ditetapkan sebagai tersangka kasus terorisme di Aceh. Kasus itu berujung pada vonis 10 tahun penjara dari hakim.

Ia keluar penjara pada 21 Oktober 2015 silam dan memulai kehidupan baru setelahnya.