“PL3HI tidak berhak mengajukan praperadilan, harusnya Kejaksaan. Koreksinya (kasus Luna Maya dan Cut Tari) ada di tangan Kejaksaan. Kalau penting untuk diteruskan, dia bisa mengajukan praperadilan. Tapi kalau melihat dari sikapnya, Kejaksaan menganggap kasus ini tidak penting,” ucap Agustinus.

Namun, lanjut dia, satu hal yang harus diingat. Pada saat itu, polisi mendapat tekanan yang hebat dari publik.

Pakar hukum pidana Universitas Islam Indonesia (UII), Mudzakir, bahkan berpendapat Luna Maya dan Cut Tari harus dilindungi. Apalagi, lanjut dia, keduanya tidak tahu-menahu perihal perekaman dan penyebaran video tersebut.

Dia mengatakan, Luna Maya dan Cut Tari merupakan korban jika benar tidak tahu tentang perekaman serta penyebaran video asusila itu.

“Yang paling salah adalah orang yang merekam dan mempublikasikan. Nah, sekarang ini yang mempublikasikan kan sudah dihukum, dipenjara. Yang merekam juga sudah dihukum penjara. Pertanyaannya, rekaman ini disetujui atau tidak. Kalau tidak disetujui, dua orang ini jadi korban. Sebaiknya penyidik dan penegak hukum melindungi korban ini,” ujar Mudzakir.

Sebelumnya, Cut Tari telah meminta maaf dan mengaku tidak tahu tentang pembuatan video dan peredarannya. Hal tersebut diungkapkan pengacara Tari, Hotman Paris.

“Perlu saya tegaskan bahwa pernyataan maaf tersebut bukan menyangkut pembuatan video dan peredarannya. Cut Tari tidak pernah membuat atau menyetujui mengenai pembuatan video porno itu atau tidak tahu tentang video tersebut. Dia juga tidak pernah mengetahui soal peredaran video tersebut,” ujar Hotman Paris Hutapea di kantornya, Jakarta, Kamis 8 Juli 2010 malam.

Kedaluwarsa?

Luna Maya – Cut Tari