Bagai bumerang, permohonan praperadilan kasus video asusila Luna Maya dan Cut Tari justru membuat perkara itu mencuat lagi. Polisi pun memastikan masih melanjutkan penyidikan kasus asusila tersebut, meski telah terkubur 8 tahun.

Muncul pertanyaan, apakah kasus itu tidak kedaluwarsa?

Pakar hukum pidana Agustinus Pohan mengatakan, masa kedaluwarsa penuntutan terbagi tiga, tergantung berat ancaman hukumannya. Ada yang masa kedaluwarsanya 6 tahun, 12 tahun dan 18 tahun.

Luna Maya dan Cut Tari sendiri dijerat dengan Pasal 282 ayat 1 KUHP tentang Asusila. Aturan tersebut berbunyi:

Barang siapa menyiarkan, mempertontonkan atau menempelkan dengan berterang-terangan suatu tulisan yang diketahui isinya, atau suatu gambar atau barang yang dikenalnya yang melanggar perasaan kesopanan, maupun membuat, membawa masuk, mengirimkan langsung, membawa keluar atau menyediakan tulisan, gambar atau barang itu untuk disiarkan, dipertontonkan atau ditempelkan sehingga kelihatan oleh orang banyak, ataupun dengan berterang-terangan atau dengan menyiarkan sesuatu surat, ataupun dengan berterang-terangan diminta atau menunjukan bahwa tulisan, gambar atau barang itu boleh didapat, dihukum penjara selama-lamanya satu tahun empat bulan atau denda sebanyak-banyaknya Rp 45.000.”

Oleh karena itu, dia menilai, kasus ini sudah kedaluwarsa. “Kalau itu, masuk ke kedaluwarsa 6 tahun. Kasus ini harus dianggap kedaluwarsa. Betul, sekarang itu penyidikan, tapi buktinya apa?” tutur Agustinus.